Statistik Penggunaan AI dalam Pemasaran dan Untung-Ruginya di Bisnis Farmasi

Insight
Statistik Penggunaan AI dalam Pemasaran dan Untung-Ruginya di Bisnis Farmasi

Published

Monday, 22 January 2024

Share

Seperti yang dijelaskan dalam artikel SIPS Digital Creative sebelumnya, 2024 akan menjadi tahun di mana penggunaan Artificial Intelligence (AI) di bisnis farmasi dan healthcare memasuki level baru. Tak cuma lebih luas, tapi juga akan lebih sophisticated.

 

Meski begitu, seperti apa sih sentimen Sejawat Marketer di seluruh dunia atas penggunaan AI? Sudah ada beberapa survei yang mengungkapkannya. Mulai dari Mailchimp, International Business Machines (IBM), Semrush hingga Influence Marketing Hub. Berikut ini rangkumannya untuk Anda.

 

Sikap Marketer Terhadap AI

  • Separuh (50%) dari marketer yakin bahwa kurangnya penggunaan AI dalam aktivitas mereka menjadi hambatan untuk mencapai tujuan mereka (Mailchimp, 2023).
  • 88% marketer berpendapat bahwa kantor mereka harus meningkatkan penggunaan otomatisasi dan AI untuk memenuhi ekspektasi pelanggan dan demi tetap bersaing (Mailchimp, 2023).
  • Lebih dari separuh, yakni 54,5%, menyatakan yakin bahwa AI dapat meningkatkan upaya pemasaran mereka (Influencer Marketing Hub, 2023).
  • Sebagian besar, atau 71,2%, percaya bahwa AI memiliki potensi untuk mengungguli manusia dalam hal pemasaran (Influencer Marketing Hub, 2023).

Penggunaan AI oleh Marketer (Influencer Markerter Hub, 2023)

  • Sekitar 61,4% marketer telah menggunakan AI dalam kegiatan pemasaran mereka.
  • Sebanyak 44,4% telah menggunakan AI dalam produksi konten.
  • Dari jumlah tersebut, 19,2% pemasar mengalokasikan lebih dari 40% anggaran pemasaran mereka untuk kampanye berbasis AI.

Penggunaan AI Menurut Pekerjaan (IBM, 2022)

  • IT professionals (54%)
  • Data engineers (35%)
  • Developers and data scientists (29%)
  • Security professionals (26%)
  • Customer service professionals (25%)
  • Marketing professionals (23%)
  • Product managers (21%)
  • Sales professionals (21%)
  • HR professionals (21%)
  • Finance professionals (21%)

Walaupun marketer berada di peringkat keenam dalam penggunaan AI dalam data IBM tersebut, survei Semrush pada tahun 2021 menunjukkan bahwa bagian marketing and sales lebih menekankan prioritas pada AI dan machine learning dibandingkan dengan departemen lainnya.

 

Hal ini mungkin mencerminkan perbedaan antara keinginan dan implementasinya. Meskipun marketer mungkin lebih menginginkan penggunaan AI, tapi mereka mungkin memiliki prioritas yang lebih rendah dalam mendapatkannya.

 

Survei Semrush turut mengungkapkan bahwa :

  • 48% pemimpin divisi pemasaran menyatakan bahwa AI memiliki dampak paling signifikan dalam interaksi pelanggan.
  • 64% B2B marketer menganggap AI sebagai elemen yang sangat berharga dalam strategi pemasaran mereka.
  • Pada tahun 2020, 80% marketer sudah menggunakan chatbot sebagai bagian dari strategi UX mereka.

Penggunaan AI di Aktivitas Pemasaran

 

Adopsi AI dalam dunia pemasaran mengalami pertumbuhan yang mencolok selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan statistik, penggunaan AI oleh marketer meningkat dari 29% pada tahun 2018 menjadi 84% pada tahun 2020. Jumlahnya melonjak hingga 55% (Salesforce, 2020).

 

Meskipun proses integrasi AI ke pekerjaan marketer sempat melambat pada tahun-tahun sebelumnya, terutama akibat pandemi, angkanya kembali meningkat pada tahun terakhir dengan pertumbuhan adopsi AI mencapai hampir 250% (HubSpot, 2023).

 

Sejumlah faktor mempengaruhi adopsi AI dalam pemasaran. Hambatan-hambatan utama melibatkan :

  • Keterbatasan keterampilan, keahlian, atau pengetahuan AI yang terbatas (34%).
  • Biaya yang sangat banyak (29%).
  • Kurangnya alat atau platform untuk mengembangkan model (25%).
  • Kompleksitas proyek yang sulit diintegrasikan dan diukur (24%)..
  • Data kompleks yang berlebihan (24%).

Meskipun survei IBM yang merilis data pada awal tahun 2022 mencatat hal ini, sekitar 10 bulan sebelum penurunan harga dan peningkatan kemudahan integrasi AI oleh ChatGPT OpenAI. Jika survei tersebut dilakukan lagi, kemungkinan besar harga akan turun dari daftar hambatan.

 

Di sisi lain, terdapat sepuluh faktor utama yang mendorong penggunaan AI, seperti :

  • Kemajuan dalam AI yang membuatnya lebih mudah diakses (43%)
  • Kebutuhan untuk mengurangi biaya dan mengotomatisasi proses utama (42%)
  • Peningkatan integrasi AI dalam aplikasi bisnis standar (37%)
  • Tekanan kompetitif (31%)
  • Permintaan yang meningkat akibat pandemi COVID-19 (31%)
  • Tekanan dari konsumen (25%)
  • Arahan dari pimpinan (23%)
  • Budaya perusahaan (22%)
  • Kekurangan tenaga kerja atau keterampilan (22%)
  • Tekanan lingkungan (20%)

Meski demikian, survei tersebut dilakukan sebelum ChatGPT dirilis oleh OpenAI, yang kemudian membuat AI lebih mudah diakses oleh para pelaku bisnis. Dan tahun 2024 menjadi momentum untuk hal tersebut.

 

Keuntungan Penggunaan AI dalam Industri Farmasi dan Healthcare

 

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam industri farmasi dan healthcare memberikan sejumlah keuntungan yang signifikan bagi para pelaku bisnis dan pemasaran. Berikut adalah rincian beberapa keuntungan tersebut:

 

1. Peningkatan Efisiensi Operasional

  • Farmasi : Dengan AI, proses produksi dan pengembangan obat dapat dioptimalkan, mempercepat penemuan molekul baru dan pengujian obat.
  • Healthcare : Pengelolaan data pasien, diagnosa, dan pengobatan dapat ditingkatkan melalui otomatisasi tugas rutin, memungkinkan staf medis lebih fokus pada aspek-aspek penting dari perawatan.

2. Personalisasi Perawatan

  • Farmasi : AI membantu dalam pengembangan obat yang disesuaikan dengan kebutuhan genetik individu, memungkinkan terapi yang lebih efektif.
  • Healthcare : Personalisasi perawatan pasien berdasarkan riwayat kesehatan dan data genetik dapat meningkatkan hasil pengobatan dan mengurangi efek samping.

3. Analisis Big Data

  • Farmasi : AI dapat menganalisis data besar untuk mengidentifikasi tren pasar, memahami preferensi konsumen, dan meramalkan permintaan obat-obatan.
  • Healthcare : Pengolahan big data dapat membantu dalam penelitian epidemiologi, pemodelan penyakit, dan prediksi kebutuhan sumber daya di fasilitas kesehatan.

4. Peningkatan Pengalaman Pasien

  • Farmasi : Chatbot AI dapat memberikan informasi obat dan memberikan dukungan pelanggan secara interaktif.
  • Healthcare : Sistem AI dapat memberikan panduan kesehatan kepada pasien, memberikan jawaban cepat terhadap pertanyaan, dan mengelola janji temu secara efisien.

5. Pemasaran yang Lebih Efektif

  • Farmasi : AI dapat membantu dalam merencanakan strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran dengan menganalisis perilaku konsumen dan tren pasar.
  • Healthcare : Pemasaran dapat dipersonalisasi berdasarkan preferensi dan kebutuhan pasien, meningkatkan respons kampanye dan loyalitas pasien.

7. Keamanan dan Keandalan Data

  • Farmasi : Perlindungan terhadap data penelitian dan pengembangan obat dapat ditingkatkan melalui sistem keamanan AI.
  • Healthcare : Penanganan data medis dapat dilakukan dengan aman, dan AI dapat mendeteksi anomali atau potensi risiko keamanan.

8. Inovasi dan Pengembangan

  • Farmasi : AI dapat membantu dalam mengidentifikasi potensi target terapeutik baru dan meramalkan hasil uji klinis.
  • Healthcare : Inovasi dalam penggunaan teknologi AI dapat mempercepat penemuan metode diagnostik dan terapeutik.

Penerapan AI di industri farmasi dan healthcare bukan hanya memberikan keuntungan operasional, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman bagi pasien serta mendukung keberlanjutan inovasi dalam penelitian dan pengembangan.

 

Potensi Kerugian Penggunaan AI dalam Industri Farmasi dan Healthcare

 

Meskipun penggunaan kecerdasan buatan (AI) memberikan sejumlah keuntungan bagi para pemasar di industri farmasi dan healthcare, terdapat beberapa potensi kerugian yang perlu diperhatikan :

 

1. Biaya Implementasi Tinggi

 

Penerapan teknologi AI memerlukan investasi besar dalam perangkat keras, perangkat lunak, dan pelatihan sumber daya manusia. Hal ini dapat menjadi beban finansial yang signifikan bagi pemasar.

 

2. Ketergantungan pada Data yang Akurat

 

Sistem AI hanya sebaik data yang digunakan untuk pelatihannya. Jika data yang digunakan tidak akurat atau bias, hasil yang dihasilkan oleh AI juga dapat menjadi tidak akurat atau memunculkan bias yang tidak diinginkan.

 

3. Kesulitan Mengelola Kompleksitas Algoritma

 

Pemasar mungkin menghadapi kesulitan dalam memahami dan mengelola algoritma kompleks yang digunakan oleh sistem AI. Ini dapat menjadi hambatan bagi pengoptimalan dan personalisasi kampanye pemasaran.

 

4. Tantangan Etika dan Privasi

 

Penggunaan AI dalam analisis data dapat menimbulkan kekhawatiran etika dan privasi, terutama ketika menangani informasi medis atau data sensitif lainnya. Pemasar perlu memastikan kepatuhan dengan regulasi privasi yang berlaku.

 

5. Ketergantungan pada Keterampilan Teknis

 

Pemasar yang tidak memiliki keterampilan teknis dalam mengelola dan memahami teknologi AI mungkin kesulitan memanfaatkannya sepenuhnya. Peningkatan keterampilan teknis dapat diperlukan.

 

6. Resistensi Terhadap Perubahan

 

Karyawan dan tim pemasaran mungkin mengalami resistensi terhadap perubahan yang membawa masuknya teknologi AI. Perubahan budaya perusahaan dan pelatihan karyawan dapat menjadi tantangan.

 

7. Tantangan Mengelola Responsibilitas

 

Keputusan yang dihasilkan oleh sistem AI mungkin sulit untuk dipertanggungjawabkan. Pemasar perlu mengelola tanggung jawab etis dan legal terkait hasil keputusan yang diambil oleh algoritma.

 

8. Potensi Kesalahan Interpretasi Data

 

Pemasar perlu memahami bahwa meskipun AI dapat menganalisis data dengan cepat, hasilnya dapat diartikan secara salah jika tidak dimonitor atau dikelola dengan hati-hati.

 

Pemasar di industri farmasi dan healthcare perlu mempertimbangkan keseimbangan antara keuntungan dan kerugian ini saat merencanakan dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang melibatkan teknologi AI. Pemahaman mendalam tentang potensi risiko ini dapat membantu mereka mengatasi tantangan dan memaksimalkan manfaat teknologi ini.

 

Kita dapat menyimpulkan bahwa sentimen para pemasar terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) mencerminkan kombinasi antara antisipasi akan keuntungan inovatif dan kekhawatiran akan tantangan yang mungkin muncul.

 

Meskipun AI membuka pintu menuju personalisasi yang lebih baik, analisis data yang mendalam, dan efisiensi operasional, perlu diakui bahwa langkah-langkah menuju integrasi AI harus diambil dengan hati-hati. Pengelolaan data yang etis, perhatian terhadap privasi, serta pemahaman mendalam tentang algoritma yang digunakan adalah kunci untuk meraih manfaat maksimal dari teknologi ini.

 

Oleh karena itu, pemasar diharapkan untuk memandang AI bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai mitra strategis dalam membuka peluang baru dan menjawab tantangan yang kompleks dalam dunia pemasaran industri farmasi dan healthcare. Dengan kesadaran akan potensi serta keterbatasannya, kita dapat memandang masa depan pemasaran yang diwarnai oleh kolaborasi harmonis antara kecerdasan buatan dan manusia yang mengambil keputusan terakhir.

 

 

Referensi

CTA Background

Your Path to Precise Digital Growth Starts with a Conversation

Every breakthrough begins with a diagnosis. Let's evaluate your digital presence and prescribe a high-performance strategy tailored specifically to your objectives.

Book a Consultation