Studi Menyebut Hyper-Personalization Punya Dampak Positif dan Negatif

Insight
Studi Menyebut Hyper-Personalization Punya Dampak Positif dan Negatif

Published

Friday, 15 March 2024

Share

Dalam era digital saat ini, konsep hyper-personalization telah menjadi fokus utama bagi banyak perusahaan dalam upaya mereka untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Fitur ini menjanjikan kustomisasi yang lebih dalam dan mendalam, memungkinkan perusahaan untuk menghadirkan konten, produk, dan layanan yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhan individu.

 

Di balik potensi besar dari hyper-personalization, terdapat dua sisi yang perlu dipertimbangkan dengan cermat. Di satu sisi, hyper-personalization dapat meningkatkan keterlibatan pelanggan, memperkuat hubungan, dan meningkatkan loyalitas. Tapi, di sisi lain, ada risiko terkait privasi dan keamanan data, serta potensi untuk menciptakan filter bubble yang membatasi akses informasi dan pandangan yang beragam.

 

Seperti dilansir oleh Emarketer pada 4 Maret 2024 lalu, hyper-personalization dapat memang menjadi jaminan keberhasilan. Mereka mengutip hasil survei yang dilakukan oleh pusat studi Marigold dan Econsultancy pada November 2023 lalu yang mengatakan bahwa 80% konsumen di seluruh dunia menganggap rekomendasi produk yang dipersonalisasi adalah hal yang “keren.”

 

Selain itu, 88% orang-orang dari kelompok Gen Z di seluruh dunia percaya AI dapat meningkatkan belanja online melalui fitur-fitur seperti penawaran yang relevan, saran produk, dan bantuan yang dipersonalisasi. Ini memudahkan mereka untuk mendapatkan saran yang cocok dengan selera mereka tanpa harus mencari lebih banyak.

 

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dengan mendorong loyalitas dan engagement, hyper-personalization dapat meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya. Dalam survei yang dilakukan oleh Retail System Research (RSR) pada Agustus 2023 mengatakan bahwa 70% pemilik brand di AS mengaku akan mengeluarkan lebih sedikit uang untuk promosi pasar secara luas tetapi berharap dapat mencapai penjualan yang lebih besar melalui penawaran yang dipersonalisasi selama dua tahun ke depan.

 

Di sisi lain, tetap ada tantangan terkait keamanan data. Dilansir oleh Salesforce dalam survei mereka pada Juli 2023, 78% konsumen di seluruh dunia semakin protektif dengan data pribadi mereka. Sebanyak 46% diantaranya bahwa mereka terganggu dan merasa risih saat di linimasa media sosial mereka muncul postingan promosi hanya sekitar 2 menit setelah mengunjungi situs web atau aplikasi untuk mencari sesuatu.

 

Lantas bagaimana cara menyeimbangkannya? Emarketer menyebut ada dua hal yang harus dilakukan oleh para pemilik brand.

 

Pertama, menyeimbangkan hyper-personalization dengan privasi. Caranya yakni memberlakukan kebijakan privasi data yang kuat, menjaga keamanan data pelanggan dan mematuhi undang-undang peraturan privasi yang berlaku. Menurut mereka, data masih bisa dibagi dan digunakan secara aman dengan pihak ketiga tanpa mengungkapkan informasi identitas pribadi apa pun.

 

Kedua, berikan kesempatan para pelanggan untuk menentukan preferensinya. Ini agar mereka dapat mengelola komunikasi mereka, sehingga merasa memegang kendali atas data yang mereka bagikan. Pemilik brand juga disebut harus melacak dan mengukur sentimen konsumen untuk memastikan hyper-personalization meningkatkan kepuasan dan kepercayaan pelanggan, bukan merusaknya.

 

Apa yang Bisa Dipelajari oleh Marketer Bisnis Farmasi dan Healthcare?

 

Dalam dunia farmasi dan layanan kesehatan, hyper-personalization menawarkan peluang besar untuk meningkatkan interaksi dengan pasien dan konsumen. Tapi, sementara pendekatan yang sangat dipersonalisasi dapat meningkatkan keterlibatan dan kepuasan pelanggan, juga penting untuk memperhatikan dampak negatifnya.

 

Risiko terkait privasi dan keamanan data harus dikelola dengan hati-hati, sementara kelebihan personalisasi dapat mengganggu atau bahkan menimbulkan ketidaknyamanan bagi konsumen. Oleh karena itu, bagi pemasar di industri farmasi dan kesehatan, penting untuk mengadopsi strategi hyper-personalization dengan hati-hati dan memperhitungkan baik aspek positif maupun negatifnya.

 

Dengan pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan dan preferensi pasien, serta pengelolaan yang bijaksana terhadap privasi dan keamanan data, pemasar dapat memanfaatkan potensi hyper-personalization untuk memperkuat hubungan dengan pelanggan, meningkatkan pengalaman pasien, dan mempromosikan kesehatan secara efektif.

 

CTA Background

Your Path to Precise Digital Growth Starts with a Conversation

Every breakthrough begins with a diagnosis. Let's evaluate your digital presence and prescribe a high-performance strategy tailored specifically to your objectives.

Book a Consultation