Tren Multi-Screen Indonesia 2025: Apa Artinya untuk Digital Marketing Kesehatan?
Published
Monday, 15 September 2025
Share
Perilaku multi-screen (mencari berbagai sumber hiburan) kini menjadi kebiasaan di Indonesia. Masyarakat tidak lagi terpaku pada satu layar, mereka menonton TV sambil menjelajahi media sosial, streaming konten OTT, atau mencari informasi di smartphone. Bagi industri farmasi dan healthcare, ini tentu menjadi peluang besar untuk memperkuat komunikasi merek dan menjangkau pasien di berbagai titik kontak digital.
Menurut Nielsen Consumer & Media View (Q1 2025), lebih dari 70% Gen Z dan Gen Y di Indonesia kini memiliki smartphone dan televisi, dengan adopsi Smart TV yang meningkat pesat di area perkotaan. Meskipun TV tetap menjadi medium dengan penetrasi tertinggi, konsumsi konten melalui ponsel tumbuh drastis, terutama di kalangan muda.
Fenomena ini menciptakan tantangan baru: perhatian audiens semakin tersebar, namun potensi jangkauannya justru meningkat. Bagi pemasar healthcare, memahami perilaku lintas-layar ini sangat penting untuk membangun strategi komunikasi yang terintegrasi, di mana setiap interaksi pasien (baik saat menonton, mencari informasi, atau berdiskusi online) menjadi peluang untuk mengedukasi dan membangun kepercayaan terhadap merek.
Gen Z dan Gen Y : Penggerak Utama Perubahan
Data Nielsen Research menunjukkan bahwa Gen Z 42% lebih mungkin menemukan produk melalui aktivitas multi-screen, diikuti oleh Gen Y dengan 8% lebih tinggi dari rata-rata nasional. Artinya, generasi muda ini menjadikan ruang keluarga mereka sebagai pusat aktivitas digital dan keputusan pembelian.
Bagi pemasar farmasi dan healthcare, strategi yang efektif bisa berupa kampanye sinkron lintas layar: misalnya, menayangkan iklan TV tentang suplemen kesehatan, lalu memperkuatnya dengan retargeting di TikTok atau voucher di e-commerce. Pendekatan ini tidak hanya memperluas jangkauan, tapi juga mendorong konversi melalui pengalaman yang relevan dan konsisten.
Tantangan : Fragmentasi Data di Dunia Konsumen yang Terhubung
Meskipun konsumen mengharapkan pengalaman merek yang mulus, banyak pemasar masih kesulitan mengukur efektivitas lintas media. Nielsen Annual Marketing Report 2025 menemukan bahwa hanya 37% pemasar di Asia Pasifik yang mampu menggabungkan pengukuran antara media digital dan tradisional.
Ketika data audiens terfragmentasi, pemasar menghadapi masalah serius seperti :
- Alokasi anggaran tidak efisien, karena sulit mengaitkan hasil antarplatform.
- Frekuensi tayang berlebih atau kurang optimal, yang menurunkan efektivitas kampanye.
- Pesan yang tidak konsisten, terutama antarwilayah dan segmen usia.
Strategi Pemasaran Healthcare yang Efektif di Era Multi-Screen
Untuk mengubah fragmentasi menjadi peluang, pemasar perlu beralih dari fokus platform ke strategi berbasis audiens. Artinya, bukan sekadar memilih kanal terbaik, tapi memahami kapan, di mana, dan bagaimana audiens healthcare berinteraksi dengan konten kesehatan.
Pendekatan ini memungkinkan brand farmasi dan layanan kesehatan untuk :
- Menjangkau pasien secara personal di berbagai layar.
- Mengoptimalkan pesan promosi agar lebih relevan dengan konteks digital.
- Meningkatkan ROI dengan pengukuran lintas media yang terintegrasi.
Multi-Screen Adalah Peluang yang Harus Dimanfaatkan
Lanskap media Indonesia yang kini berangsur-angsur menjadi multi-screen semakin kompleks bukanlah hambatan, melainkan peluang besar bagi pemasar healthcare yang siap beradaptasi. Dengan pemahaman audiens berbasis data dan pengukuran menyeluruh seperti yang ditawarkan Nielsen Research, institusi kesehatan dapat mengubah fragmentasi atensi menjadi strategi pertumbuhan yang berkelanjutan. Di era di mana setiap layar bisa menjadi titik kontak pasien, kuncinya sederhana: jadikan data sebagai dasar keputusan, bukan sekadar laporan.

Your Path to Precise Digital Growth
Starts with a Conversation
Every breakthrough begins with a diagnosis. Let's evaluate your digital presence and prescribe a high-performance strategy tailored specifically to your objectives.
Book a Consultation