5 Cara Tingkatkan Kepercayaan Konsumen Industri Farmasi di Indonesia

Insight
5 Cara Tingkatkan Kepercayaan Konsumen Industri Farmasi di Indonesia

Published

Thursday, 21 November 2024

Share

Menurut survei firma konsultan asal Amerika Serikat yakni Edelman, 88% konsumen global menganggap ketidakpercayaan terhadap merek sebagai hambatan utama untuk membeli produk atau menggunakan layanan. Di sektor farmasi dan healthcare, kepercayaan menjadi faktor penting untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen. Berikut adalah langkah-langkah berbasis data yang relevan untuk membangun kepercayaan konsumen di Indonesia, seperti dihimpun dari eMarketer.

1. Prioritaskan Perlindungan Data Pasien

Statistik utama : Perlindungan data konsumen adalah faktor nomor satu dalam membangun kepercayaan, menurut data PwC.

Relevansi di Indonesia : Dalam era digital, rumah sakit, klinik, dan perusahaan farmasi harus mematuhi regulasi seperti UU PDP (Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi) untuk melindungi data pasien. Transparansi dalam penggunaan data untuk personalisasi layanan, seperti pengiriman informasi obat atau promosi kesehatan, harus dikelola secara hati-hati agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi konsumen.

2. Gunakan Platform yang Dipercaya Konsumen

Statistik utama : Amazon adalah salah satu platform teknologi yang paling dipercaya secara global, menurut laporan All About Cookies.

Relevansi di Indonesia : Di Indonesia, platform seperti Google, Tokopedia, dan Shopee memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Perusahaan farmasi dapat memanfaatkan platform ini untuk memperkenalkan produk kesehatan dan obat-obatan secara aman dan terpercaya. Menghindari platform yang memiliki reputasi buruk dapat menjaga integritas merek di mata masyarakat.

3. Pilih Format Iklan yang Mendapatkan Kepercayaan

Statistik utama : 61,9% konsumen global mempercayai iklan video, lebih tinggi dibandingkan konten bersponsor (57%) dan iklan banner (50,7%), menurut eMarketer.

Relevansi di Indonesia : Konsumen di Indonesia cenderung menyukai video edukasi, terutama jika melibatkan dokter, apoteker, atau influencer kesehatan terpercaya. Konten video di platform seperti YouTube, Instagram, atau TikTok yang menyampaikan manfaat produk kesehatan secara informatif dapat meningkatkan kepercayaan sekaligus engagement.

4. Hindari Ketergantungan pada Platform yang Kurang Dipercaya

Statistik utama : Lebih dari separuh konsumen global (52%) tidak mempercayai platform media sosial, menurut AfterShip dan Ipsos.

Relevansi di Indonesia : Meskipun media sosial seperti Instagram dan TikTok memiliki pengguna yang besar, perusahaan farmasi perlu memperkuat strategi organik. Konten yang bersifat edukatif, seperti tips kesehatan atau testimoni pengguna, dapat membantu meningkatkan kepercayaan konsumen. Dorongan terhadap konten buatan pengguna (user-generated content) juga dapat memperkuat hubungan dengan audiens.

5. Perhatikan Kekhawatiran Konsumen terhadap AI

Statistik utama : 36% konsumen tidak mempercayai hasil pencarian yang dihasilkan AI, menurut eMarketer dan CivicScience.

Relevansi di Indonesia : Penggunaan AI untuk mendukung layanan kesehatan, seperti chatbot medis atau rekomendasi produk, harus dilakukan secara transparan dan mudah dipahami. Misalnya, memberikan informasi bahwa teknologi tersebut telah divalidasi oleh tenaga medis atau lembaga kesehatan terpercaya dapat membantu membangun kepercayaan.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, perusahaan farmasi dan healthcare dapat memperkuat kepercayaan konsumen sekaligus meningkatkan efektivitas strategi pemasaran. Dalam industri yang sangat bergantung pada kepercayaan, pendekatan ini tidak hanya membangun hubungan baik tetapi juga mendorong loyalitas jangka panjang.

CTA Background

Siap untuk pemasaran presisi yang mengubah hasil Anda?

Hubungi kami hari ini, dan mari mulai mencapai tujuan pemasaran farmasi Anda bersama-sama.

Mulai Perjalanan Anda Sekarang