Fenomena Ad Fatigue Membayangi, Apa yang Harus Marketer Lakukan?

Insight
Fenomena Ad Fatigue Membayangi, Apa yang Harus Marketer Lakukan?

Published

Tuesday, 30 July 2024

Share

Promosi lewat media sosial memang menjadi salah satu cara mudah bagi brand untuk menjangkau para calon pembeli. Tak cuma lantaran memiliki jangkauan lebih luas, metode ini juga sangat ampuh untuk brand image. Terlebih jika dikombinasikan dengan pemasaran konvensional.

Namun, tahukah Anda bahwa kini orang bisa mengalami kejenuhan iklan atau advertisement fatigue? Hal tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan oleh vendor online market asal Inggris yakni Capterra pada 499 pembeli reguler di platform mereka.

Dalam survei yang diterbitkan pada Selasa pekan lalu (16/7/2024), 91% orang merasa terlalu banyak iklan di media sosial. Bahkan lebih dari sepertiga memblokir iklan tertentu dan 35% berhenti mengikuti suatu brand dalam 12 bulan terakhir.

Kelebihan iklan dapat menyebabkan kelelahan dan persepsi negatif terhadap merek, sehingga perusahaan perlu menyesuaikan strategi pemasaran mereka. Tapi, 57% responden masih mencari informasi produk melalui iklan di media sosial dan 29% melakukan pembelian.

Lantas apa yang bisa dipetik dari survei tersebut? Dilansir oleh Marketing Tech News, Eduardo Garcia Rodrigues selaku analis Capterra, brand perlu berhati-hati dalam penggunaan iklan. Termasuk pula saat menargetkan dengan tepat dan mempersonalisasi konten untuk menghindari kelelahan iklan.

Meskipun banyak konsumen yang tidak ingin berinteraksi dengan brand di media sosial, hampir setengahnya bersedia berinteraksi jika ditawarkan diskon atau produk yang relevan dengan minat mereka. Selain itu, penggunaan alat pemasaran dan analitik di media sosial dapat membantu brand dalam memahami tren dan sentimen pelanggan.

Di sisi lain, banyak konsumen beralih ke saluran komunikasi yang lebih pribadi seperti pesan pribadi atau obrolan grup untuk rekomendasi produk, yang lebih sulit dilacak oleh brand. Tapi, ada cara untuk mengatasi ini, seperti menggunakan URL shorteners, UTMs, dan tombol CTA yang memudahkan konten dibagikan di berbagai platform.

Selain itu, langkah-langkah untuk melindungi privasi saat berbelanja online, seperti menolak cookie atau menggunakan dompet digital, membuat semakin sulit bagi brand untuk mendapatkan wawasan pelanggan. Brand harus membangun kepercayaan dengan konsumen dengan transparan mengenai penggunaan data dan kebijakan privasi mereka.

“Jika pembeli mengkhawatirkan privasi mereka, perusahaan harus mencari cara untuk membangun kepercayaan dengan audiens mereka dengan bersikap transparan tentang bagaimana data mereka digunakan dan dengan jelas mengkomunikasikan kebijakan privasi mereka. Pada gilirannya, konsumen akan lebih mungkin untuk berbagi informasi pribadi mereka dengan mereka,” ungkap Eduardo seperti dilansir Marketing Tech News, Jumat pekan lalu (19/7/2024).

CTA Background

Siap untuk pemasaran presisi yang mengubah hasil Anda?

Hubungi kami hari ini, dan mari mulai mencapai tujuan pemasaran farmasi Anda bersama-sama.

Mulai Perjalanan Anda Sekarang