Mayoritas Pemasar Masih Ragu Gunakan AI untuk Tangani Dokumen Regulasi
Published
Tuesday, 2 December 2025
Share
Teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan di berbagai industri, termasuk kesehatan. Tapi, untuk urusan dokumen regulasi yang sensitif, para pemasar farmasi ternyata masih belum sepenuhnya yakin.
Hal ini terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Klick Health dan Momentum Events, yang menyoroti bagaimana pelaku industri memandang penggunaan AI dalam penyusunan dokumen untuk lembaga regulator.
Temuan Survei : Kekhawatiran Tetap Dominan
Survei yang dilakukan secara online terhadap 40 profesional pemasaran dan tim peninjau (review) di industri farmasi selama Juli–Oktober 2025 menunjukkan bahwa 65% responden masih skeptis terhadap penggunaan AI dalam pembuatan dokumen regulasi.
Beberapa alasan utama munculnya keraguan tersebut antara lain :
- 40% mengkhawatirkan AI hallucinations (output AI yang salah atau mengarang fakta).
- 20% menyoroti minimnya audit trail atau jejak audit yang jelas.
- 12,5% mempertanyakan transparansi dan kemampuan AI untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan (explainability).
Menariknya, meskipun mereka ragu menjadikan AI sebagai penulis dokumen, 50% responden mengatakan mereka percaya pada AI sebagai alat bantu review atau peninjau materi regulasi.
Mengapa Ini Penting?
Perusahaan farmasi global saat ini mulai melirik penggunaan generative AI (genAI) untuk menyusun berbagai dokumen resmi yang harus diserahkan kepada regulator seperti FDA. Tujuannya jelas: mempercepat proses persetujuan obat dan mengurangi kesalahan manusia.
Survei menunjukkan :
- 55% organisasi sedang menjajaki penggunaan AI untuk proses review.
- 25% sudah mulai melakukan pengujian.
- Tapi hanya 7,5% yang telah mengimplementasikan AI, baik sebagian maupun sepenuhnya.
- 12,5% sama sekali tidak mempertimbangkan penggunaan AI untuk kebutuhan ini.
Sementara itu, FDA sendiri mulai mengadopsi genAI untuk mempercepat evaluasi dokumen industri, bahkan telah menunjuk Chief AI Officer pertamanya pada Mei 2025.
Potensi Implikasi untuk Pemasar Farmasi di Indonesia
Meskipun survei ini dilakukan di pasar internasional, trennya relevan bagi industri farmasi Indonesia yang semakin terintegrasi dengan ranah digital. Berikut beberapa insight penting :
1. AI akan Jadi Bagian Standar Proses Regulasi
Ke depan, AI kemungkinan menjadi alat penting dalam mempercepat penyusunan dan peninjauan dokumen, baik dari industri maupun regulator.
2. Pengawasan Manusia Tetap Krusial
Kekhawatiran terkait akurasi, bias, dan jejak audit menunjukkan bahwa tanpa pengawasan manusia yang memadai, penggunaan AI justru dapat memperlambat proses atau memicu permintaan klarifikasi tambahan dari regulator.
3. Risiko Kesalahan AI Tidak Bisa Diremehkan
AI hallucinations dapat berakibat fatal pada dokumen regulasi, yang pada akhirnya berpotensi menghambat persetujuan obat atau memicu revisi yang memakan waktu.
4. Transparansi Sistem AI Menjadi Kunci
Agar AI diterima lebih luas, industri perlu memastikan bahwa teknologi yang digunakan memiliki tingkat transparansi dan traceability yang memadai.
Kesimpulannya? : Pahami Tren Global
AI akan memainkan peran semakin besar dalam industri farmasi, termasuk dalam proses regulasi. Namun, adopsinya tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Kepercayaan terhadap AI harus dibangun melalui sistem yang transparan, aman, dapat diaudit, dan selalu diawasi oleh tenaga ahli.
Bagi pelaku farmasi di Indonesia, memahami tren global ini sangat penting agar dapat mempersiapkan infrastruktur, kebijakan internal, serta kemampuan SDM menuju ekosistem regulasi yang lebih efisien dan berbasis teknologi.

Siap untuk pemasaran presisi yang mengubah hasil Anda?
Hubungi kami hari ini, dan mari mulai mencapai tujuan pemasaran farmasi Anda bersama-sama.
Mulai Perjalanan Anda Sekarang