Menilik Prospek Bisnis Farmasi dan Healthcare di Kawasan Asia Tenggara

Insight
Menilik Prospek Bisnis Farmasi dan Healthcare di Kawasan Asia Tenggara

Published

Monday, 19 February 2024

Share

Asia Tenggara, dengan segala potensi ekonominya, adalah salah satu lanskap pasar yang sangat menjanjikan bagi bisnis di sektor farmasi dan pelayanan kesehatan. Di sisi lain, terjadi pertumbuhan penduduk yang cenderung stabil dan kesadaran akan pentingnya kesehatan semakin meningkat. Itu semua membuat prospek bisnis farmasi dan healthcare di kawasan ASEAN menjadi sangat menjanjikan.

 

Ada beragam faktor yang menjadi keunggulan serta peluang yang bisa dieksplorasi dalam menghadapi masa depan di industri kesehatan Asia Tenggara. Apa saja itu? Berikut penjelasan selengkapnya untuk Sejawat Marketer, seperti dirangkum dari beragam sumber.

 

Alasan Prospek Bisnis Farmasi dan Healthcare di Kawasan Asia Tenggara Sangat Menjanjikan

 

1. Pertumbuhan Penduduk dan Urbanisasi

 

Diperkirakan bahwa penduduk Asia Tenggara akan terus tumbuh hingga tahun 2030. Menurut Proyeksi Penduduk Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), diperkirakan bahwa populasi Asia Tenggara akan mencapai sekitar 760 juta pada tahun 2030. Situasi ini menciptakan permintaan yang tinggi akan pelayanan kesehatan.

 

Urbanisasi yang pesat juga menjadi tren, di mana persentasenya terus meningkat. Hal tersebut berpotensi mendongkrak permintaan akan fasilitas kesehatan di pusat-pusat perkotaan atau wilayah suburban. Bisnis farmasi dan pelayanan kesehatan perlu bersiap menghadapi situasi tersebut.

 

2. Peningkatan Pendapatan dan Kesadaran Kesehatan

 

Proyeksi menunjukkan adanya peningkatan pendapatan masyarakat di kawasan ini. Laporan World Bank pada tahun 2022 menunjukkan bahwa beberapa negara di Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi yang stabil meski sempat terpukul akibat pandemik COVID-19. Belum lagi proyeksi bahwa jumlah kelas menengah di ASEAN akan meningkat dua kali lipat pada 2030.

 

Ini diperkirakan akan berimbas pada naiknya pengeluaran untuk kesehatan. Secara langsung, kesadaran kesehatan dan permintaan akan produk-produk farmasi berkualitas pun ikut meningkat. Perusahaan perlu menyesuaikan kemampuan dan strategi mereka dengan kebutuhan konsumen yang semakin cerdas.

 

3. Teknologi Kesehatan dan Digitalisasi

 

Revolusi digital akan terus memengaruhi industri kesehatan. Aplikasi kesehatan, telemedicine dan teknologi wearable health akan menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan di beberapa negara seperti Indonesia, Singapura dan Malaysia. Hal tersebut juga kian terbukti dengan meroketnya penggunaan telemedicine saat pandemik COVID-19.

 

Ini senada dengan hasil penelitian dari McKinsey Global Institute pada 2022 yang menunjukkan bahwa adopsi teknologi kesehatan di Asia Tenggara sedang meningkat, bahkan sebelum pandemi melanda. Bisnis farmasi yang mengadopsi inovasi ini akan mendapatkan keunggulan kompetitif.

 

4. Peningkatan Penyakit Tidak Menular

 

Diperkirakan bahwa kasus penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas akan terus meningkat. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2020 mencatat peningkatan kasus penyakit tidak menular di kawasan ini. Diperkirakan bahwa pada tahun 2030, 75% kematian akan disebabkan oleh penyakit tersebut.

 

Ini menciptakan peluang untuk produk farmasi yang fokus pada pencegahan dan pengelolaan penyakit kronis. Alhasil profit tak cuma menjadi alasan utama penggerak pasar kesehatan di ASEAN, tapi juga untuk membantu mengatasi masalah penyakit tak menular yang mulai menjadi concern di sejumlah negara.

 

5. Kolaborasi dan Kemitraan

 

Berhubungan dengan poin sebelumnya, kolaborasi antara perusahaan farmasi, pemerintah, dan lembaga kesehatan akan menjadi kunci kesuksesan. Terutama untuk mengatasi tren penyakit tidak menular yang angkanya terus menanjak dari waktu ke waktu.

 

Data dari World Health Summit menunjukkan bahwa kolaborasi antara perusahaan farmasi dan pemerintah di Asia Tenggara terus meningkat, terutama dalam proyek-proyek yang menyasar kesehatan masyarakat. Proyek kemitraan strategis dalam riset, distribusi, dan pendidikan kesehatan dapat memperkuat infrastruktur kesehatan di seluruh kawasan.

 

6. Akses ke Pelayanan Kesehatan Dasar

 

Meskipun ada peningkatan dalam beberapa aspek, tantangan akses ke pelayanan kesehatan dasar masih ada. Menurut Indeks Pembangunan Kesehatan Dunia, beberapa negara (Indonesia, Kamboja dan Timor Leste) tetap berkutat pada hal tersebut. Karena itu, investasi dalam infrastruktur kesehatan dasar menjadi sangat krusial.

 

Perusahaan perlu mengembangkan model bisnis yang inklusif untuk memastikan bahwa masyarakat di wilayah terpencil atau berpendapatan rendah juga mendapatkan akses yang layak. Tentu saja ini harus menggandeng Kementerian Kesehatan serta organisasi swadaya/non-pemrintah yang lebih tahu perihal kondisi di lapangan.

 

7. Inovasi dalam Produksi dan Distribusi Obat

 

Laporan dari Pusat Riset Ekonomi dan Bisnis (CEBR) mencatat peningkatan investasi dalam pusat riset dan pengembangan farmasi di beberapa negara Asia Tenggara. Ini mencerminkan fokus pada inovasi akan terus tumbuh untuk mengatasi tantangan pasar kesehatan.

 

Di sisi lain, poses produksi dan distribusi obat perlu terus diinovasi untuk memastikan ketersediaan produk kesehatan yang berkualitas. Penggunaan teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan rantai pasokan (blockchain) untuk transparansi dan efisiensi akan memainkan peran penting

 

8. Perubahan Regulasi dan Kebijakan Pemerintah

 

Beberapa negara baru saja merevisi regulasi farmasi untuk memfasilitasi penetrasi pasar dan mempercepat persetujuan obat-obatan. Sebut saja UU Kesehatan di Indonesia di tahun 2023 serta Malaysian National Medicines Policy (MNMP) yang baru kembali diperbaharui pada awal Januari 2024 lalu.

 

Perusahaan diharapkan terus memantau perubahan regulasi dan kebijakan kesehatan di masing-masing negara. Lingkungan yang mendukung dapat memfasilitasi pertumbuhan bisnis, sementara perubahan yang tidak terduga dapat menjadi tantangan.

 

Tantangan yang Menyertai Prospek Bisnis Farmasi dan Healthcare di Asia Tenggara

  1. Regulasi yang Berbeda : Setiap negara di ASEAN memiliki regulasi kesehatan yang berbeda-beda. Tantangan utama adalah beradaptasi dengan peraturan yang berbeda di setiap pasar, yang dapat meningkatkan kompleksitas logistik, distribusi, dan kepatuhan.
  2. Akses ke Layanan Kesehatan : Meskipun terdapat kemajuan dalam sebagian besar negara ASEAN, masih ada daerah yang memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan. Tantangan ini melibatkan peningkatan aksesibilitas dan distribusi produk farmasi serta pelayanan kesehatan di wilayah pedesaan.
  3. Infrastruktur dan Teknologi : Beberapa negara di ASEAN masih menghadapi tantangan dalam pengembangan infrastruktur dan adopsi teknologi kesehatan. Hal ini dapat mempengaruhi efisiensi penyediaan layanan kesehatan dan distribusi produk farmasi.
  4. Tingkat Kesehatan Masyarakat : Perbedaan tingkat kesehatan masyarakat di setiap negara ASEAN menjadi faktor penting. Beberapa negara mungkin memiliki tantangan terkait penyakit menular, sementara yang lain mungkin lebih fokus pada penyakit tidak menular. Strategi pemasaran dan penelitian produk harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap pasar.
  5. Persaingan yang Ketat : Pasar farmasi dan layanan kesehatan di ASEAN semakin kompetitif dengan masuknya perusahaan lokal dan internasional. Persaingan yang ketat memerlukan diferensiasi yang kuat dalam produk dan layanan.
  6. Perubahan Demografi : Perubahan demografi seperti penuaan penduduk dapat memengaruhi permintaan terhadap jenis produk kesehatan tertentu. Bisnis perlu memahami perubahan ini untuk menyesuaikan strategi pemasaran dan penawaran produk.
  7. Pandemi dan Krisis Kesehatan : Kejadian seperti pandemi atau krisis kesehatan dapat memberi dampak signifikan terhadap industri kesehatan. Kesiapan dalam menghadapi situasi ini dan memiliki strategi penanganan krisis menjadi kunci.
  8. Pendidikan dan Kesadaran Kesehatan : Tantangan meningkatkan pendidikan dan kesadaran kesehatan masyarakat agar mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik terkait kesehatan mereka sendiri, serta mengurangi stigma terkait penyakit tertentu.
  9. Perubahan dalam Model Bisnis : Perkembangan dalam teknologi dan preferensi konsumen dapat menyebabkan perubahan dalam model bisnis tradisional. Adaptasi terhadap perubahan ini dapat menjadi tantangan tersendiri.
  10. Keberlanjutan dan Aspek Lingkungan : Tantangan terkait keberlanjutan dan dampak industri kesehatan terhadap lingkungan semakin penting. Perusahaan harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam rantai pasok dan praktik bisnis mereka.

Asia Tenggara muncul sebagai panggung sarat prospek untuk bisnis farmasi dan healthcare di tahun 2030. Dukungan dari pertumbuhan penduduk yang stabil dan peningkatan kesadaran akan kesehatan menciptakan peluang besar untuk eksplorasi dan perkembangan sektor ini.

 

Dengan menggali potensi pasar dan beradaptasi dengan dinamika regional, masa depan bisnis farmasi dan healthcare di kawasan Asia Tenggara menjanjikan keberlanjutan.

 

CTA Background

Siap untuk pemasaran presisi yang mengubah hasil Anda?

Hubungi kami hari ini, dan mari mulai mencapai tujuan pemasaran farmasi Anda bersama-sama.

Mulai Perjalanan Anda Sekarang