Pelajaran Penting untuk Pharma Marketer: Neurolog Ingat Kategori Obat, Bukan Nama Merek
Published
Monday, 25 August 2025
Share
Survei terbaru yang dilakukan oleh ZoomRx dan diterbitkan pada 17 Juli 2025 mengungkapkan pola menarik di kalangan dokter spesialis saraf (neurolog). Temuannya menunjukkan bahwa para neurolog tidak mengingat nama merek obat secara spesifik, melainkan berpikir dalam konteks kategori atau kelas terapinya.
Meski survei dilakukan di Amerika Serikat, ini menjadi penting bagi pemasar farmasi di Indonesia, terutama bagi mereka yang berfokus pada area neurologi dan terapi saraf. Ini demi menyesuaikan pendekatan komunikasi produk agar lebih relevan dengan cara berpikir dokter.
Dokter Lebih Ingat Jenis Obat, Bukan Namanya
Survei terhadap 57 ahli saraf di Negeri Paman Sam menunjukkan bahwa tidak ada satu pun merek obat yang diingat lebih dari 5% responden tanpa bantuan daftar atau panduan.
Beberapa merek yang berhasil diingat antara lain :
- Nurtec (Pfizer/Biohaven) – terapi migrain
- Vyvgart (Argenx) – untuk penyakit autoimun penyebab kelemahan otot
Namun, sebagian besar produk hanya dikenal oleh 1-4% dokter, menandakan bahwa pasar obat neurologi sangat terfragmentasi dengan lebih dari 120 jenis obat berbeda.
Faktor yang Meningkatkan Brand Recall di Kalangan Dokter
Menurut hasil survei ZoomRx, beberapa faktor utama yang meningkatkan peluang dokter mengingat nama obat antara lain :
- Efikasi terbukti secara klinis (45%)
- Sering diresepkan dan digunakan pasien (41%)
- Keamanan terbukti (21%)
- Nama obat mudah diingat (19%)
Bagi pemasar farmasi di Indonesia, temuan ini memperjelas bahwa pendekatan edukatif berbasis bukti klinis (evidence-based marketing) dan konsistensi pesan antar kanal menjadi kunci dalam membangun awareness yang kuat di kalangan tenaga medis.
Kelas dan Indikasi Terapi Lebih Melekat di Ingatan
Ketika dokter diminta menyebutkan obat yang mereka ingat, mayoritas jawaban dikelompokkan berdasarkan kelas terapi dan indikasi klinis :
- 24% berasal dari kelas monoclonal antibody (mAb), yang digunakan untuk berbagai penyakit autoimun.
- 17% merupakan antikonvulsan, yang digunakan untuk epilepsi dan gangguan kejang.
- Berdasarkan indikasi klinis, 17% digunakan untuk multiple sclerosis, 17% untuk epilepsi/seizure disorder, dan 16% untuk migrain.
Hasil ini menegaskan bahwa dokter lebih mengingat kategori terapi dibandingkan nama merek, terutama pada area neurologi yang kompleks dan beragam.
Implikasi bagi Strategi Pemasaran Farmasi di Indonesia
Untuk pemasar farmasi, khususnya di bidang neurologi, survei ini memberikan pelajaran penting: strategi komunikasi produk sebaiknya menonjolkan kategori terapi dan bukti klinis, bukan sekadar nama merek.
Pendekatan yang disarankan meliputi :
- Mengedepankan narasi edukatif berdasarkan kelas terapi (misalnya “antibodi monoklonal untuk gangguan autoimun”).
- Menyoroti data efikasi dan keamanan dari uji klinis.
- Berkolaborasi dengan KOL (Key Opinion Leader) neurolog untuk meningkatkan kredibilitas pesan.
Contoh sukses dapat dilihat dari Keytruda (Merck) dan Opdivo (Bristol Myers Squibb). Dua obat onkologi ini memiliki tingkat recall tinggi berkat edukasi klinis yang kuat dan konsistensi komunikasi merek.
Bisa Menjadi Strategi Baru Pharma Marketer di Indonesia
Dalam industri farmasi yang semakin kompetitif, khususnya di bidang neurologi, memahami cara dokter memproses informasi obat menjadi krusial. Survei ZoomRx menunjukkan bahwa dokter lebih mudah mengingat kelas terapi dan manfaat klinis, bukan nama produk.
Dengan demikian, pemasar farmasi di Indonesia disarankan untuk membangun strategi berbasis edukasi ilmiah, relevansi klinis, dan diferensiasi kategori terapi. Ini demi meningkatkan kepercayaan dan visibilitas merek secara berkelanjutan.

Siap untuk pemasaran presisi yang mengubah hasil Anda?
Hubungi kami hari ini, dan mari mulai mencapai tujuan pemasaran farmasi Anda bersama-sama.
Mulai Perjalanan Anda Sekarang