Strategi Social Commerce: Peluang Besar bagi Pemasaran Industri Kesehatan
Published
Tuesday, 11 March 2025
Share
Penelitian terbaru mengungkap bahwa hampir sepertiga merek global belum memiliki strategi social commerce, meskipun platform belanja sosial semakin populer. Padahal, tren ini bukan hanya berlaku untuk industri ritel, tapi juga untuk sektor farmasi dan layanan kesehatan yang semakin mengandalkan digitalisasi dalam pemasaran.
Dari studi teranyar SAMY Alliance terhadap 70 pemasar senior di merek global, sekitar 70% telah menerapkan strategi social commerce, tapi masih banyak celah dalam cara bisnis menjalankan social selling dan membangun komunitas, termasuk di industri kesehatan. Dalam dunia farmasi, social commerce dapat menjadi alat edukasi yang efektif, meningkatkan kepercayaan pasien, serta mempercepat adopsi produk kesehatan dan layanan medis.
Instagram Dominan dalam Social Commerce
Instagram menjadi platform utama social commerce dengan 40% merek menggunakannya sebagai saluran utama, mengungguli e-commerce milik sendiri (34%). Pengaruh Instagram tak hanya dalam penjualan, tapi juga dalam strategi pemasaran. SAMY Alliance menemukan bahwa 1 dari 4 pemasar berencana mengalokasikan setidaknya 25% anggaran marketing 2025 mereka ke platform ini.
Bagi pemasar farmasi, Instagram adalah peluang besar untuk menyampaikan informasi seputar kesehatan dengan cara yang lebih menarik dan interaktif. Misalnya, brand suplemen atau alat kesehatan bisa memanfaatkan fitur Reels untuk menjelaskan manfaat produknya secara singkat, sementara klinik atau rumah sakit dapat membangun kepercayaan dengan berbagi testimoni pasien atau edukasi kesehatan berbasis komunitas.
Patricia Aragón, Global Director eCommerce Emerging Solutions & Innovation di SAMY Alliance, menyebut, "Fakta bahwa hampir sepertiga brand masih belum memiliki strategi social commerce sangat mengejutkan, terutama melihat pertumbuhan platform seperti TikTok Shop."
Perubahan Perilaku Konsumen dalam Mencari Produk Kesehatan
Media sosial semakin menjadi tempat pencarian produk, bersaing dengan mesin pencari tradisional. Google masih memimpin dengan 86% pencarian merek, tapi Instagram (70%) dan TikTok (44%) semakin berperan sebagai saluran penemuan produk.
Hal ini juga berdampak pada sektor kesehatan, di mana konsumen semakin sering mencari informasi tentang obat, suplemen, atau layanan medis melalui media sosial. Oleh karena itu, brand farmasi dan layanan kesehatan perlu memastikan kehadiran digital mereka di platform ini dengan konten yang kredibel dan informatif.
Konten video pendek menjadi fokus utama strategi pemasaran 2025, dengan 69% pemasar yakin Instagram Reels akan semakin populer, diikuti oleh TikTok (66%). Tren ini mencerminkan pergeseran ke shoppertainment (kombinasi hiburan dan belanja) yang juga bisa diterapkan dalam edukasi kesehatan. Misalnya, dokter atau apoteker dapat membagikan tips kesehatan singkat atau menjelaskan cara kerja suatu produk farmasi melalui video interaktif.
Kesenjangan dalam Manajemen Komunitas
Hanya 25% merek yang secara aktif berinteraksi dengan komunitas online mereka, padahal keterlibatan yang baik dapat meningkatkan interaksi algoritma, loyalitas pelanggan, serta penjualan. Dalam konteks farmasi dan layanan kesehatan, membangun komunitas yang aktif bisa menjadi kunci untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.
Hampir separuh merek lebih memilih platform sosial dengan fitur belanja bawaan, sejalan dengan pertumbuhan TikTok Shop dan Instagram Shopping yang memperpendek perjalanan dari penemuan produk ke pembelian. Bagi industri kesehatan, ini bisa berarti mempermudah akses konsumen terhadap suplemen, alat kesehatan, atau layanan konsultasi online melalui integrasi langsung dengan e-commerce.
Ke depan, brand farmasi dan layanan kesehatan perlu menyempurnakan strategi social commerce dengan menyeimbangkan hiburan, keterlibatan komunitas, dan pengalaman belanja yang lancar. Tanpa strategi yang jelas, mereka berisiko tertinggal dalam lanskap digital yang terus berkembang.
Tiga Fokus Utama untuk Social Commerce di Industri Farmasi dan Kesehatan
- Pemilihan Platform : Instagram tetap menjadi pilihan utama, tetapi TikTok juga semakin relevan untuk edukasi kesehatan.
- Format Konten : Video pendek seperti Reels dan TikTok semakin mendominasi, cocok untuk menyampaikan informasi kesehatan secara singkat dan menarik.
- Manajemen Komunitas : Keterlibatan aktif dengan audiens, seperti menjawab pertanyaan pasien atau memberikan edukasi medis, harus ditingkatkan

Siap untuk pemasaran presisi yang mengubah hasil Anda?
Hubungi kami hari ini, dan mari mulai mencapai tujuan pemasaran farmasi Anda bersama-sama.
Mulai Perjalanan Anda Sekarang